Foto dari Luar Angkasa Gambarkan Perang di Gaza




Pertempuran di Jalur Gaza begitu telanjang dan kasat mata, baik di daratan maupun di angkasa. Bahkan ketika pertempuran itu dilihat dari ketinggian nun jauh di sana, keberingasan yang ada di daratan tetap terlihat jelas.

Krisis yang memburuk di Gaza menyebarkan kengerian ke seluruh dunia, sampai pada para antariksawan yang ada di luar Bumi. Tepatnya di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).Sebagaimana dilansir Liputan6.com dari Sydney Morning Herald (24/07/2014), astronot Alexander Gerst memposting perang di Gaza dalam Twitternya Kamis lalu.

Berselimut kegelapan malam, sepotong wilayah Israel terlihat dengan jejaring cahaya dan kumpulan-kumpulan lampu sebagai penanda sebuah kota.Namun demikian, kilatan-kilatan cahaya yang paling menyesakkan dalam foto itu adalah ledakan-ledakan di wilayah Gaza yang padat penduduk dan menderita akibat blokade selama bertahun-tahun.

Insinyur penerbangan kebangsaan Jerman itu, yang juga adalah ahli geofisika dan gunung berapi, sedang berada di ISS dalam misi selama 6 bulan.Ia sedang melaksanakan tugas Badan Angkasa Eropa (ESA) bersama rekan-rekan insinyur dari Amerika, Reid Wiseman, dan komandan penerbangan asal Rusia, Maksim Surayev. Mereka adalah bagian dari enam antariksawan yang sedang berada di ruang angkasa.
Gerst telah berada di orbit bumi selama 57 hari dan mengatakan bahwa foto ini merupakan fotonya yang paling menyedihkan. Ia berkicau dalam bahasa Inggris dan Jerman:

My saddest photo yet. From #ISS we can actually see explosions and rockets flying over #Gaza & #Israelpic.twitter.com/jNGWxHilSy — Alexander Gerst (@Astro_Alex) July 23, 2014
Mein traurigstes Foto: von der #ISS aus sehen wir Explosionen und Raketen ├╝ber #Gaza und #Israelpic.twitter.com/xRERusouyk — Alexander Gerst (@Astro_Alex) July 23, 2014

Sementara di darat, pertempuran di Gaza telah mengganggu sejumlah penerbangan, karena banyaknya penerbangan ke Israel melaporkan bahwa bandara Tel Aviv menjadi sasaran serangan.Di pihak Palestina, konflik itu telah menewaskan lebih dari 600 jiwa, termasuk 149 anak-anak tak berdosa, dalam tiga minggu terakhir.